Program Pencegahan Tuberkulosis (TBC)

Artikel

28 September 2026

1f1bb045-f736-65ec-a227-4a2a86b8f8f2.webp

Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit infeksi, yang kebanyakan terjadi, pada paru-paru. Penyakit akibat infeksi bakteri ini mudah menular melalui udara, tepatnya melalui droplets ketika penderita TBC sedang batuk atau bersin, maupun berbicara.


Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada lebih dari satu juta kasus TBC per tahunnya. Padahal, kondisi ini bisa dicegah dan disembuhkan jika cepat ditangani serta penderitanya konsisten menjalani pengobatan hingga dinyatakan sembuh.



Apa Itu TBC ?


Penyakit TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Gejala yang paling umum dari TBC adalah batuk yang tak kunjung sembuh, lebih dari 2 minggu, meski sudah mengonsumsi obat batuk. Selain menyerang paru-paru, penyakit ini juga bisa menyebar ke organ tubuh lainnya, seperti tulang, ginjal, otak, dan kelenjar getah bening.


TBC terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :


  1. TBC aktif, yang dapat menimbulkan gejala dan bisa menularkan ke orang lain
  2. TBC laten, yang tidak menimbulkan gejala dan tidak menular


Meskipun menderita TBC laten, infeksi ini berubah menjadi aktif ketika sistem kekebalan tubuh penderitanya sedang lemah.



Gejala TBC


Munculnya gejala TBC tergantung pada jenis penyakitnya. Pada penderita TBC laten, gejala fisik tidak akan muncul, tetapi tes TB akan menunjukkan hasil yang positif. Sedangkan mereka yang menderita penyakit TBC aktif bisa saja mengalami beberapa gejala TBC yang meliputi :


  1. Batuk yang tidak membaik lebih dari 2 minggu
  2. Batuk berdarah
  3. Demam ringan yang sering muncul, terutama di sore atau malam hari
  4. Berkeringat di malam hari tanpa sebab yang jelas
  5. Berat badan turun drastis tanpa direncanakan
  6. Kehilangan nafsu makan
  7. Sesak napas atau nyeri dada
  8. Mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas yang berat



Penyebab TBC


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularan penyakit ini terjadi apabila seseorang menghirup droplet penderita TBC yang dikeluarkan saat mereka batuk, bersin, atau berbicara. Jika terhirup, kuman penyebab TB akan masuk ke paru-paru dan berkembang biak.


Namun, jika seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, bakteri tidak akan aktif dan menjadi TBC laten. Sebaliknya, ketika sistem kekebalan tubuh lemah, bakteri akan mudah berkembang biak dan membuat orang yang terinfeksi menderita TBC aktif.


Waktu seseorang terinfeksi bakteri penyebab TBC hingga munculnya gejala berkisar 4โ€“12 minggu.



Faktor Risiko TBC


Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko seseorang terinfeksi bakteri penyebab TBC, yaitu:


  1. Berada dekat dengan penderita TBC aktif, seperti tinggal serumah, satu ruangan di kantor, atau sering berinteraksi
  2. Bepergian ke wilayah dengan kasus TBC tinggi
  3. Tinggal di rumah atau ruangan dengan ventilasi yang buruk
  4. Individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, contohnya penderita HIV/AIDS, diabetes, kanker, dan malnutrisi, serta bayi, anak-anak, dan lansia
  5. Kebiasaan merokok
  6. Tinggal di lingkungan yang padat, kumuh, atau kotor


Perlu dipahami, TBC tidak menular melalui jabat tangan, makanan atau minuman, dan berbagi pakaian.



Kapan Harus ke Dokter ?


Penyakit tuberkulosis (TBC) adalah kondisi yang tidak boleh disepelekan. Sebab, kondisi ini dapat menular dengan mudah dan berpotensi menyebabkan komplikasi yang membahayakan jiwa. Oleh sebab itu, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis paru dan pernapasan jika Anda merasakan gejala TBC atau berisiko tinggi terkena TBC.


Anda harus segera mengunjungi dokter untuk memeriksakan kemungkinan tuberkulosis (TBC) jika mengalami gejala berikut ini:


  1. Batuk berkepanjangan atau batuk berdarah
  2. Demam yang tidak kunjung reda atau sering kambuh
  3. Berkeringat berlebihan di malam hari tanpa alasan yang jelas
  4. Penurunan berat badan secara signifikan tanpa diet atau olahraga
  5. Nyeri dada, terutama saat bernapas atau batuk


Peluang untuk terkena TBC laten cenderung tinggi jika ada anggota keluarga atau orang terdekat yang terinfeksi penyakit ini. Jadi, bagi Anda yang memiliki riwayat kontak dengan seseorang yang terdiagnosis TBC atau memiliki faktor risiko lain, periksakan diri ke dokter meski tidak bergejala. Pasalnya, tidak semua penderita TBC menunjukkan gejala.



Diagnosis TBC


Diagnosis TBC dilakukan pada individu yang mengalami batuk tak kunjung sembuh, dan terjadi lebih dari 2 minggu, disertai dengan gejala lainnya, seperti batuk berdarah atau berat badan turun drastis. Berikut ini adalah beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosis TBC:


  1. Tes Mantoux (tes tuberkulin) untuk mengetahui reaksi kulit terhadap protein dari bakteri penyebab TBC
  2. Rontgen dada untuk melihat kondisi paru-paru dan memeriksa ada tidaknya kerusakan atau infeksi
  3. Tes dahak untuk mendeteksi keberadaan bakteri TBC dalam dahak
  4. Tes darah untuk mengukur respons sistem kekebalan tubuh terhadap keberadaan bakteri TBC
  5. Tes cepat molekuler (TCM) untuk menegakkan diagnosis TBC



Pengobatan TBC


Tidak seperti batuk biasa, yang cukup diobati dengan obat sesuai jenis batuknya, batuk karena TBC perlu mengonsumsi obat antituberkulosis (OAT) secara teratur dan tuntas selama 6โ€“8 bulan. Sebab jika tidak disiplin saat pengobatan TBC, bakteri bisa kebal atau resisten terhadap obat (TBC resisten) sehingga lebih sulit disembuhkan.


Tahap Awal Pengobatan TBC


Pasien TBC biasanya mendapatkan 4 jenis obat dalam fase awal pengobatan atau yang juga dikenal dengan fase intensif, yaitu:


  1. Rifampisin untuk membunuh bakteri aktif
  2. Isoniazid untuk menghambat pertumbuhan bakteri
  3. Pirazinamid untuk membunuh bakteri dalam lingkungan asam
  4. Etambutol untuk mencegah resistensi obat


Pada tahap pengobatan TBC ini, jumlah bakteri dalam tubuh mulai berkurang dan gejala TBC pun makin membaik.


Tahap Lanjutan Pengobatan TBC


Fase lanjutan merupakan tahap pengobatan TBC yang terakhir dan berlangsung selama 4 bulan. Pada tahap ini, pasien hanya perlu mengonsumsi 2 jenis obat, yaitu rifampisin dan isoniazid. Obat ini bisa dikonsumsi setiap hari atau 3 kali seminggu.


Selama tahap pengobatan TBC, pasien harus minum obat sesuai jadwal tanpa terlewat. Meskipun sudah merasa sehat, pasien tidak boleh menghentikan konsumsi obat sama sekali dan harus diselesaikan hingga tuntas guna mencegah resistensi obat. Selama menjalani pengobatan, pasien TBC disarankan untuk menggunakan masker saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak menularkan penyakitnya.


Selain mengonsumsi obat-obatan yang sudah diresepkan oleh dokter, pasien juga perlu menerapkan pola makan bergizi seimbang, mencukupi waktu istirahat, tidak merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol, dan rutin berolahraga. Asupan nutrisi dan pola hidup sehat sangat penting peranannya dalam mendukung penyembuhan TBC yang maksimal.



Komplikasi TBC


Jika terlambat ditangani atau tidak ditangani dengan tepat, bakteri bisa menyebar ke organ tubuh lainnya dan menyebabkan sejumlah komplikasi, berupa:


  1. Gagal napas
  2. Efusi pleura (penumpukan cairan di paru-paru)
  3. Meningitis
  4. TBC tulang
  5. TB Milier
  6. Perikarditis (radang selaput jantung)
  7. Resistensi obat (jika pengobatan TBC tidak tuntas)



Pencegahan TBC


TBC merupakan penyakit yang bisa dicegah. Pencegahan TBC bisa dilakukan dengan beragam cara, seperti:


  1. Melakukan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin) untuk mencegah komplikasi TBC
  2. Menggunakan masker saat berinteraksi dengan penderita TBC
  3. Membuka jendela atau menjaga sirkulasi udara di rumah maupun tempat kerja tetap baik
  4. Menutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk dan bersin, untuk mencegah penularan TBC
  5. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  6. Menjalani olahraga secara rutin
  7. Mencukupi waktu tidur
  8. Menghindari konsumsi minuman beralkohol dan tidak merokok


Segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis paru dan pernapasan di Setia Mitra Hospital, jika Anda merasakan gejala TBC atau berisiko tinggi terkena TBC. Pasalnya, tidak semua TBC bergejala.


Jadi, apabila dalam keluarga atau kantor ada yang terkena TBC, langsung lakukan skrining untuk mengetahui apakah ada orang lain yang terinfeksi. Makin cepat dideteksi dan ditangani, makin besar pula kemungkinan Anda dan orang-orang tersayang untuk sembuh dari TBC.



FAQ (Frequently Asked Questions)


Apa Penyebab Awal TBC ?


Tuberkulosis (TBC) disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang penularannya terjadi melalui droplet ketika seseorang yang menderita TBC batuk, bersin, atau berbicara. Jika orang lain menghirup droplet ini, mereka dapat terinfeksi TBC juga.


Apa Gejala Awal Tertular TBC ?


Gejala awal tertular TBC sering kali tidak spesifik dan mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Gejala yang paling umum muncul adalah nyeri dada saat bernapas atau batuk, batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, dan batuk berdarah. Penderita juga mungkin mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, kelelahan, keringat malam, dan demam ringan.


Namun, pada beberapa kasus, infeksi TBC dapat bersifat laten, di mana bakteri ada di dalam tubuh tetapi tidak menimbulkan gejala. Namun, jika tidak diobati, infeksi laten dapat berkembang menjadi TB aktif dan menular.


Apa Pantangan dari Penyakit TBC ?


Pantangan dari penyakit TBC mencakup:


  1. Merokok dan mengonsumsi alkohol
  2. Kontak dekat dengan orang-orang yang memiliki sistem imun lemah, seperti anak-anak, orang tua, dan penderita penyakit kronis
  3. Mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau mengandung banyak gula dan lemak jenuh


Penderita juga disarankan untuk mengonsumsi obat sesuai dengan arahan dokter, meskipun sudah merasa lebih baik, agar kuman penyebab TB tidak resisten terhadap pengobatan.

Lihat Info & Promo Lainnya
1f1bb0d2-d5e4-6abe-bb18-4a2a86b8f8f2.webp

28 September 2026

Artikel
Mengenal Hipertensi : Penyebab, Gejala, dan Pengobatan yang Efektif

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemukan. Namun, seringkali telat ditangani karena tidak menimbulkan gejala pada tahap awal perkembangannya. Padahal, kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi yang berbahaya, jika tidak ditangani dengan tepat.Oleh karena itu, mari mengenal lebih lanjut kondisi yang sering disebut sebagai "the silent killer" ini dengan menyimak informasi dalam artikel di bawah ini!Apa itu Hipertensi ?Hipertensi, atau yang sering disebut sebagai tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri meningkat secara konsisten melebihi nilai normal, umumnya 120/80 mmHg.Normalnya hasil pengukuran tekanan darah adalah sistolik adalah antara 90mmHg sampai 120 mmHg, sedangkan untuk tekanan darah diastolik adalah 60-80 mmHg. Bila angka hasil pengukuran tekanan darah adalah 140/90 mmHg atau lebih, kondisi ini sudah dapat digolongkan ke dalam hipertensi.Karena peningkatan tekanan darah tidak memiliki gejala, sering kali penderitanya mengabaikan kondisi ini, hingga terjadi komplikasi. Padahal, tekanan darah yang tinggi tanpa pengobatan untuk waktu lama akan menyebabkan robekan kecil pada pembuluh darah, yang akhirnya bisa menyebabkan serangan jantung maupun gagal jantung.Jenis-Jenis HipertensiSecara umum, jenis hipertensi bisa dibedakan menjadi 2, yakni primer dan sekunder. Namun, ada juga beberapa jenis hipertensi yang terjadi karena dipicu kondisi tertentu. Berikut ini adalah beberapa jenis hipertensi yang perlu Anda ketahui :1. Hipertensi PrimerHipertensi primer adalah terjadinya peningkatan tekanan darah tanpa penyebab yang jelas atau tidak disebabkan oleh kondisi medis lain. 2. Hipertensi SekunderHipertensi sekunder, peningkatan tekanan darah terjadi akibat penyakit lain yang sebelumnya sudah terlebih dahulu diderita, seperti penyakit ginjal yang dapat menyebabkan hipertensi sekunder.3. Hipertensi Jas PutihHipertensi jas putih (white coat hypertension), peningkatan tekanan darah hanya terjadi saat diperiksa oleh tenaga medis atau diperiksa di fasilitas kesehatan.4. Hipertensi TersamarkanHipertensi tersamarkan (masked hypertension), hasil pemeriksaan tekanan darah hanya meningkat saat diperiksa di rumah, sedangkan saat di rumah sakit atau di fasilitas kesehatan, hasilnya normal.5. Hipertensi Saat TidurHipertensi saat tidur malam (nocturnal hypertension), peningkatan tekanan darah yang terjadi hanya saat tidur di malam hari.Terkadang, hipertensi primer dan sekunder bisa terjadi bersamaan. Maksudnya, seseorang mungkin saja sudah mengalami hipertensi primer, mengalami perburukan atau tekanan darahnya makin meningkat karena mengalami komplikasi dari penyakit yang lain.Gejala HipertensiGejala hipertensi sering kali tidak spesifik, sehingga banyak orang tidak menyadari mereka menderita kondisi ini. Bahkan, terkadang penderita hipertensi tidak merasakan gejala apapun bahkan saat tekanan darah mereka menunjukkan angka yang sangat tinggi. Karena itu, hipertensi sering disebut sebagai silent killer.Secara umum, berikut adalah gejala hipertensi yang mungkin muncul :Pusing dan sakit kepala parahLelah dan lemasMimisanKulit memerah (terutama pada wajah dan leher)Nyeri dadaGangguan penglihatanTekanan darah yang sangat tinggi juga dapat menimbulkan gejala yang lebih serius seperti sesak napas, linglung, bahkan kehilangan kesadaran. Jadi, sangat penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam apabila Anda mengalami gejala-gejala di atas.Penyebab HipertensiSebenarnya penyebab hipertensi primer tidak diketahui secara pasti, karena merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Beberapa faktor yang memegang peran besar, antara lain :Pola makan tidak sehat, termasuk konsumsi makanan cepat saji, makanan yang tinggi lemak jenuh, dan makanan yang tinggi garam.Terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein atau beralkohol.Tidak rutin berolahraga, dan lebih banyak duduk atau yang lebih dikenal dengan pola hidup sedenter.Mengalami kelebihan berat badan (overweight), bahkan obesitas.Menderita gangguan tidur (terutama insomnia) atau kurang tidurMemiliki keluarga dengan riwayat hipertensiSedangkan untuk hipertensi sekunder, setidaknya ada 1 faktor medis yang bisa diidentifikasi oleh dokter. Beberapa hal yang dapat menyebabkan hipertensi tersebut adalah sebagai berikut ini :Konsumsi obat-obatan tertentu, termasuk pil kontrasepsi, obat antiperadangan non-steroid, dan obat untuk menekan kekebalan tubuh.Perokok aktif.Mengalami gangguan ginjal.Menderita penyakit kronis, seperti penyakit ginjal, sleep apnea, dan diabetes.Faktor Risiko HipertensiSelain itu ada juga beberapa faktor risiko yang memperbesar kemungkinan terjadinya hipertensi, yakni :Berusia lebih dari 64 tahunSedang mengalami stres yang beratKehamilanMenderita gangguan hormonMengalami obesitas atau kelebihan berat badanMemiliki anggota keluarga yang mengidap tekanan darah tinggiTidak melakukan olahraga teraturMengonsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak secara rutinMengonsumsi banyak kopi atau minuman kafein lainKebiasaan merokokKurang tidur atau mengalami kesulitan tidurKapan Harus ke Dokter ?Hipertensi jarang menyebabkan gejala yang jelas di tahapan awal. Biasanya, bila Anda sudah mulai merasakan gejala hipertensi, itu adalah tanda bawah Anda sudah membutuhkan penanganan segera.Anda harus segera berkonsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam jika mengalami gejala-gejala berikut :Sakit kepala parah dan menetapPenglihatan kabur atau berfluktuasiNyeri dada yang tidak hilangSesak napas yang tidak biasaMimisan yang parah atau tidak kunjung berhentiPusing atau sakit kepala parahMerasa lemas atau sulit berbicara<a href="https://www.rspondokindah.co.id/id/news/stroke-gejala-penyebab-penanganan" rel="noopener noreferrer" target="_blank">Jangan menunda-nunda konsultasi ke dokter jika mengalami gejala hipertensi yang mengkhawatirkan. Sebab tekanan darah tinggi yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius seperti <a href="https://www.rspondokindah.co.id/id/news/stroke-gejala-penyebab-penanganan" rel="noopener noreferrer" target="_blank">stroke, serangan jantung, dan kerusakan organ.Selain itu, jika Anda memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga hipertensi, obesitas, atau diabetes, sangat disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehata

Baca Selengkapnya
1f1baea7-33c6-6fd4-a0a7-4a2a86b8f8f2.webp

28 September 2026

Artikel
Waspada Influenza, Jangan Anggap Remeh!

Musim pancaroba sering kali membawa penyakit, dan salah satunya adalah influenza. Jangan anggap remeh flu biasa, karena influenza bisa lebih serius! Yuk, ketahui cara mencegahnya.Salah satu penyakit yang seringkali dianggap sepele namun sebenarnya berpotensi membahayakan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan balita, adalah influenza. Meski kerap disamakan dengan flu biasa, influenza memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya.Flu vs Influenza, Apa Bedanya ?Influenza adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, yaitu hidung, tenggorokan, dan paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza tipe A, B, dan C. Dalam banyak kasus, influenza mungkin hanya menyebabkan gejala ringan, tetapi pada bayi dan balita, virus ini dapat menyebabkan komplikasi serius.Gejalanya mirip dengan flu biasa, tapi seringkali lebih parah, seperti ; Demam tinggi tiba-tiba, Nyeri otot dan sakit kepala, Batuk kering dan sakit tenggorokan, Kelelahan ekstrem, Pilek atau hidung tersumbat.PenyebabBeberapa penyebab influenza :Influenza A : Penyebab paling umum dari wabah flu dan pandemi global. Subtipe virus ini, seperti H1N1 dan H3N2, sering berubah, menyebabkan kebutuhan vaksin yang berbeda setiap tahun.Influenza B : Umumnya menyebabkan wabah yang lebih lokal dan biasanya lebih ringan dibandingkan dengan influenza A.Influenza C : Penyebab gejala flu yang paling ringan dan tidak menyebabkan wabah.DiagnosisUntuk mendiagnosis influenza, dokter mungkin akan :Mengambil Riwayat Gejala : Menanyakan tentang gejala yang dialami.Pemeriksaan Fisik : Mendengarkan suara pernapasan dan memeriksa gejala lain.Tes Laboratorium : Mengambil sampel lendir dari hidung atau tenggorokan untuk dianalisis.PengobatanPengobatan influenza pada bayi dan balita biasanya melibatkan :Rehat yang Cukup : Memastikan anak mendapat istirahat yang cukup untuk memulihkan energinya.Pemantauan Suhu Tubuh : Menggunakan obat penurun demam sesuai dosis untuk anak.Penggunaan Obat Antiviral : Seperti oseltamivir (Tamiflu) yang dapat mengurangi keparahan dan durasi gejala jika diberikan dalam 48 jam pertama.Pemenuhan Cairan : Memastikan anak tetap terhidrasi dengan ASI, susu formula, atau air.Cara Pencegahan : Jaga Diri dan Sekitar AndaBerikut beberapa cara terbaik untuk mencegah influenza :Vaksinasi Influenza : Cara terbaik untuk mencegah influenza adalah dengan mendapatkan vaksin flu setiap tahun. Vaksin ini aman dan sangat direkomendasikan untuk semua orang di atas 6 bulan.Cuci Tangan : Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik.Tingkatkan Imunitas : Pastikan tubuh tetap kuat dengan makan makanan yang sehat, minum air putih yang cukup dan tidur yang cukup.Kebiasaan Sehat untuk Imunitas KuatTutup Mulut dan Hidung : Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam, lalu segera buang tisu ke tempat sampah yang tertutup.Disinfeksi Permukaan : Bersihkan permukaan yang sering disentuh, seperti gagang pintu, meja, gadget, secara rutin.KomplikasiPada bayi dan balita, influenza dapat menyebabkan komplikasi serius, sepert :Pneumonia : Infeksi paru-paru yang berpotensi fatal.Bronkiolitis : Infeksi saluran udara kecil di paru-paru.Miomisitis : Peradangan otot.Ensefalitis : Peradangan pada otak.Komplikasi jantung. Kenali Tanda Bahaya Influenza!Jangan tunda ke dokter jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala :Gejala yang memburuk atau tidak membaik.Sesak napas.Demam tinggi yang tidak turun.Sakit dada.Muntah terus-menerus.Influenza mungkin terdengar seperti penyakit biasa, tetapi dampaknya pada bayi dan balita bisa jauh lebih serius. Memahami gejala, metode pencegahan, dan pengobatan dapat membantu orang tua dan wali merawat anak-anak dengan lebih baik selama musim flu dan melindungi mereka dari potensi komplikasi yang parah.Segera konsultasikan kesehatan Anda secara rutin bersama tim dokter spesialis penyakit dalam di Setia Mitra Hospital.

Baca Selengkapnya
1f1ad8cf-1c57-6398-b5c1-4a2a86b8f8f2.webp

11 September 2026

Promo
Paket Tindakan Laparaskopi Usus Buntu (Apendiks)

๐Ÿšจ Jangan Tunda Operasi Usus Buntu! Bebas Nyeri Hebat Pulih Lebih Cepat dengan Laparaskopi ๐ŸฅโœจNyeri perut kanan bawah yang datang tiba-tiba tentu buat cemas dan mengganggu aktivitas. Tak perlu khawatir berlebihan, kini operasi usus buntu tidak lagi identik dengan bekas luka besar dan masa pemulihan yang lama! ๐Ÿ’กMelalui teknologi Laparascopy Appendictomy di Setia Mitra Hospital, tindakan dilakukan secara minimal invasive (sayatan sangat kecil) sehingga minim rasa sakit, risiko infeksi lebih rendah, dan pemulihan jauh lebih cepat! โšกDapatkan paket perawatan lengkap (Operasi + Inap 3 Hari + Obat + Adm) mulai dari :๐Ÿ”น Kelas 3: Rp 21.000.000๐Ÿ”น Kelas 2: Rp 23.466.000๐Ÿ”น Kelas 1: Rp 25.930.000๐Ÿ”น VIP 2: Rp 27.505.000๐Ÿ”น VIP 1: Rp 29.278.000โœ… Berlaku untuk pembayaran Umum Asuransi๐Ÿ—“๏ธ Promo berlaku hingga 31 Desember 2026 (tanpa penyulit/komplikasi)Jangan biarkan radang usus buntu makin parah. Konsultasikan dengan tim Dokter Spesialis Bedah kami sekarang! ๐Ÿ‘จโ€โš•๏ธ๐Ÿฉบ๐Ÿ“ฒ Info Pendaftaran:๐Ÿ’ฌ WhatsApp: 0821 2546 1550 (Jam Kerja)๐Ÿ“ž Call Center: 021 765 6000 (24 Jam)๐Ÿšจ Emergency: 021 765 4676๐ŸŒ Scan QR Code pada gambar atau kunjungi www.rssetiamitra.com

Baca Selengkapnya